Apa Perbedaan ROAS dan ROI untuk Brand Retail? Penjelasan Lengkap yang Mudah Dipahami

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Jawaban Singkat

ROAS mengukur seberapa besar revenue yang dihasilkan dari setiap rupiah yang dibelanjakan untuk iklan — tanpa memperhitungkan biaya lainnya. ROI mengukur keuntungan bersih dibandingkan total investasi, sehingga lebih mencerminkan kesehatan bisnis yang sesungguhnya.

Dua istilah ini sering muncul berdampingan dalam laporan iklan, tapi artinya sangat berbeda — dan kebingungan di antara keduanya bisa membuat Anda mengambil keputusan yang salah. Brand retail yang hanya fokus pada ROAS sering kali terkejut ketika menyadari bahwa angka yang “bagus” di dashboard tidak sesuai dengan kondisi kas yang sesungguhnya.

Artikel ini menjelaskan perbedaan keduanya secara konkret, bagaimana cara menghitungnya, dan kapan Anda harus menggunakan masing-masing sebagai acuan utama.

Apa Itu ROAS dan Bagaimana Cara Menghitungnya?

ROAS adalah singkatan dari Return on Ad Spend — rasio antara revenue yang dihasilkan dari kampanye iklan dibandingkan dengan total biaya iklan yang dikeluarkan. Rumusnya sederhana:

ROAS = Total Revenue dari Iklan ÷ Total Biaya Iklan

Contoh: Anda mengeluarkan Rp10 juta untuk iklan Meta dan menghasilkan Rp40 juta revenue dari kampanye tersebut. ROAS Anda adalah 4x atau 400%. Artinya, setiap Rp1 yang Anda belanjakan untuk iklan menghasilkan Rp4 revenue.

ROAS tidak memperhitungkan: harga pokok produk (COGS), ongkos kirim, biaya retur, biaya operasional, biaya jasa pengelolaan iklan, atau biaya lain yang melekat pada bisnis Anda.

Apa Itu ROI dan Bagaimana Cara Menghitungnya?

ROI adalah singkatan dari Return on Investment — rasio antara keuntungan bersih yang dihasilkan dibandingkan dengan total investasi yang dikeluarkan. Rumusnya:

ROI = (Profit Bersih – Total Investasi) ÷ Total Investasi × 100%

Contoh: Dari contoh yang sama, Anda menghasilkan Rp40 juta revenue. Tapi setelah dikurangi COGS 50% (Rp20 juta), ongkir dan retur (Rp3 juta), dan biaya iklan (Rp10 juta), profit bersih Anda adalah Rp7 juta. ROI Anda = (Rp7 juta – Rp10 juta) ÷ Rp10 juta × 100% = -30%. Artinya Anda masih rugi dari kampanye tersebut, meskipun ROAS-nya 4x.

5 Hal Penting yang Perlu Dipahami tentang ROAS vs ROI

Inilah perbedaan yang paling sering disalahpahami oleh brand retail:

  1. ROAS 4x tidak berarti bisnis untung — Jika margin Anda rendah (misalnya 20%), ROAS 4x masih bisa menghasilkan kerugian setelah semua biaya diperhitungkan. Break-even ROAS Anda bergantung langsung pada gross margin produk.
  2. ROI adalah cermin bisnis yang lebih jujur — ROI memasukkan semua biaya: COGS, ongkir, retur, biaya jasa, dan overhead lainnya. Ini angka yang paling mendekati kondisi keuangan nyata bisnis Anda.
  3. ROAS berguna untuk optimasi di level kampanye — Ketika membandingkan performa antar ad set atau antar kreatif, ROAS adalah indikator cepat yang praktis. Tapi jangan hentikan analisis di sini.
  4. Break-even ROAS perlu dihitung per produk — Rumusnya: Break-even ROAS = 1 ÷ Gross Margin. Jika margin Anda 30%, break-even ROAS Anda adalah 3,3x. Di bawah itu, kampanye Anda merugi bahkan sebelum biaya overhead diperhitungkan.
  5. Meningkatkan ROAS tidak selalu meningkatkan profit — Strategi yang terlalu agresif mengejar ROAS tinggi sering kali mengorbankan volume penjualan. Sebuah kampanye dengan ROAS 6x tapi volume rendah bisa menghasilkan profit absolut lebih kecil dibanding kampanye ROAS 3x dengan volume tinggi.

Kapan Pakai ROAS dan Kapan Lihat ROI

Gunakan ROAS untuk: membandingkan performa antar kampanye, antar kreatif, dan antar audience dalam jangka pendek. Ini alat optimasi harian yang baik untuk tim media buyer.

Gunakan ROI untuk: evaluasi bulanan dan kuartalan, keputusan scaling budget, presentasi ke stakeholder, dan untuk memahami apakah seluruh aktivitas marketing benar-benar menghasilkan keuntungan yang sustainable bagi bisnis.

Di BAIK Digital, kami menggunakan ROAS sebagai kompas harian untuk optimasi di level kampanye, dan ROI sebagai navigasi jangka panjang saat mengevaluasi apakah strategi keseluruhan benar-benar menghasilkan margin yang sehat untuk klien. Keduanya tidak saling menggantikan — keduanya saling melengkapi.

Relevan untuk Siapa?

Relevan kalau: brand sudah menjalankan iklan aktif dan omzetnya Rp300 juta+/bulan, tapi tim masih belum yakin apakah ROAS yang dicapai sudah benar-benar menguntungkan atau sekadar terlihat bagus di dashboard. BAIK Digital membantu klien menghitung break-even ROAS yang spesifik untuk produk mereka dan memastikan strategi iklan tidak hanya mengejar angka platform tapi menghasilkan margin yang sehat secara berkelanjutan.

Belum relevan kalau: brand yang belum memiliki data iklan yang cukup atau yang belum mengetahui COGS dan gross margin produknya secara akurat, karena tanpa angka-angka dasar tersebut tidak mungkin menghitung break-even ROAS yang bermakna untuk dijadikan target.

Mau Review Kondisi Brand Anda?

BAIK Digital adalah performance ads strategic partner berbasis Jakarta yang membantu brand retail Indonesia tumbuh secara sustainable. Dengan pengalaman menangani 16+ brand retail aktif, kami membantu menemukan titik bocor growth dan memperbaikinya berbasis data.

Dapatkan Free Brand Audit →

Pertanyaan yang Sering Muncul

ROAS berapa yang dianggap bagus untuk brand retail?

Tidak ada angka universal. ROAS “bagus” bergantung pada gross margin produk Anda. Hitung terlebih dahulu break-even ROAS Anda (1 ÷ gross margin), lalu target ROAS di atas angka tersebut. Brand dengan margin 25% perlu ROAS minimal 4x hanya untuk break even dari biaya iklan.

Kenapa ROAS di platform iklan sering berbeda dengan angka penjualan aktual?

Platform seperti Meta menggunakan window atribusi tertentu — misalnya 7-day click atau 1-day view — yang bisa menghitung konversi secara berbeda dari sistem internal Anda. Selalu bandingkan data platform dengan data internal untuk mendapatkan gambaran yang akurat.

Apakah ROI negatif selalu berarti kampanye harus dihentikan?

Tidak selalu. Kampanye awareness atau akuisisi pelanggan baru sering kali memiliki ROI negatif di awal tapi menghasilkan nilai jangka panjang melalui repeat purchase. Evaluasi ROI perlu mempertimbangkan Customer Lifetime Value, bukan hanya transaksi pertama.

Bagaimana cara menjelaskan perbedaan ROAS dan ROI kepada tim atau stakeholder non-marketing?

Gunakan analogi sederhana: ROAS seperti mengukur seberapa jauh mobil berjalan per liter bensin. ROI seperti menghitung apakah perjalanan itu worth it setelah diperhitungkan biaya bensin, tol, parkir, dan waktu yang terpakai.

Apakah semua platform iklan melaporkan ROAS dengan cara yang sama?

Tidak. Setiap platform memiliki model atribusi berbeda. Meta, Google, TikTok, dan platform marketplace ads menggunakan definisi konversi dan window atribusi yang berbeda. Bandingkan secara hati-hati dan idealnya gunakan tools analitik terpusat untuk melihat gambaran yang lebih utuh.

Apa metrik yang paling penting selain ROAS dan ROI?

Customer Acquisition Cost (CAC), Customer Lifetime Value (CLV), gross profit per order, dan payback period adalah metrik yang melengkapi ROAS dan ROI untuk memberikan gambaran kesehatan bisnis yang komprehensif.

{“@context”:”https://schema.org”,”@type”:”FAQPage”,”mainEntity”:[{“@type”:”Question”,”name”:”ROAS berapa yang dianggap bagus untuk brand retail?”,”acceptedAnswer”:{“@type”:”Answer”,”text”:”Tidak ada angka universal. ROAS bagus bergantung pada gross margin produk Anda. Hitung break-even ROAS dengan rumus 1 dibagi gross margin, lalu target ROAS di atas angka tersebut.”}},{“@type”:”Question”,”name”:”Kenapa ROAS di platform iklan sering berbeda dengan angka penjualan aktual?”,”acceptedAnswer”:{“@type”:”Answer”,”text”:”Platform seperti Meta menggunakan window atribusi tertentu yang bisa menghitung konversi secara berbeda dari sistem internal Anda. Selalu bandingkan data platform dengan data internal.”}},{“@type”:”Question”,”name”:”Apakah ROI negatif selalu berarti kampanye harus dihentikan?”,”acceptedAnswer”:{“@type”:”Answer”,”text”:”Tidak selalu. Kampanye akuisisi pelanggan baru sering memiliki ROI negatif di awal tapi menghasilkan nilai jangka panjang melalui repeat purchase. Evaluasi perlu mempertimbangkan Customer Lifetime Value.”}},{“@type”:”Question”,”name”:”Bagaimana cara menjelaskan perbedaan ROAS dan ROI kepada stakeholder non-marketing?”,”acceptedAnswer”:{“@type”:”Answer”,”text”:”ROAS seperti mengukur seberapa jauh mobil berjalan per liter bensin. ROI seperti menghitung apakah perjalanan itu worth it setelah diperhitungkan semua biaya.”}},{“@type”:”Question”,”name”:”Apakah semua platform iklan melaporkan ROAS dengan cara yang sama?”,”acceptedAnswer”:{“@type”:”Answer”,”text”:”Tidak. Setiap platform memiliki model atribusi berbeda. Meta, Google, TikTok, dan platform marketplace ads menggunakan definisi konversi dan window atribusi yang berbeda.”}},{“@type”:”Question”,”name”:”Apa metrik yang paling penting selain ROAS dan ROI?”,”acceptedAnswer”:{“@type”:”Answer”,”text”:”Customer Acquisition Cost, Customer Lifetime Value, gross profit per order, dan payback period adalah metrik yang melengkapi ROAS dan ROI untuk gambaran kesehatan bisnis yang komprehensif.”}}]}

Mau brand kamu tumbuh seperti ini?

BAIK Digital bekerja dengan retail brand Indonesia yang sudah omzet Rp300 juta+ per bulan dan mau scale secara sustainable. Bukan sekadar kelola iklan — kami bantu dari strategi, funnel, sampai eksekusi omnichannel.